Citra Nur Hidayah, Nurul Hidayatun
(Mahasiswa Jurusan PGMI IAIN Salatiga)

A Keterpaduan merupakan pendekatan dalam belajar dan cara berpikir yang memandang proses berbahasa sebagai bagian integral dalam belajar di bidang apapun. Ini berarti bahwa khususnya di SD bahasa tidak dipelajari sebagai mata pelajaran seperti sains, misalnya, melainkan terpadu dalam penggunaannya untuk mempelajari apapun. Aspek-aspek keterampilan berbahasa dikembangkan secara langsung melalui kegiatan belajar dalam semua bidang. Agar dapat terjadi keterpaduan dalam pembelajaran dapat menggunakan unit tematik. Hal ini menjadi sarana keterpaduan di samping memberikan makna bagi anak.

Selain itu, Pembelajaran terpadu merupakan suatu aplikasi salah satu startegi pembelajaran berdasarkan pendekatan kurikulum terpadu yang bertujuan untuk menciptakan atau membuat proses pembelajaran secara relevan dan bermakna bagi anak. Pembelajaran terpadu didasarkan pada pendekatan inkuiri, yaitu melibatkan siswa mulai dari merencanakan, mengeksplorasi, dan brain storming dari siswa. Dengan pendekatan terpadu siswa didorong untuk berani bekerja secara kelompok dan belajar dari hasil pengalamannya sendiri. Selanjutnya dijelaskan bahwa dalam pelaksanaannya anak dapat diajak berpartisipasi aktif dalam mengeksplorasi topik atau kejadian, siswa belajar proses dan isi (materi) lebih dari satu bidang studi pada waktu yang sama.
Keterpaduan dapat dibedakan menjadi dua, yaitu keterpaduan sebagai keterpaduan intra bidang studi dan keterpaduan antar bidang studi. Dalam keterpaduan intra bidang studi, misalnya dalam pembelajaran bahasa Indonesia, setelah tema ditentukan, kemudian dikembangkan aspek keterampilan membaca, menulis, berbicara, dan menyimak. Sedangkan keterpaduan antar bidang studi, anak-anak belajar menggunakan aspek-aspek keterampilan bahasa melalui kegiatan belajar dalam berbagai bidang studi. Mereka belajar menggunakan bahasa untuk berbagai keperluan, seperti untuk mencari atau memberikan informasi, mengungkapkan perasaan atau tanggapan, mengaanalisis, serta memecahkan permasalahan.
Pendekatan terpadu dalam pembelajaran bahasa Indonesia adalah model pembelajaran kegiatan berbahasa berdasarkan fungsi utama bahasa sebagai alat untuk berkomunikasi. Para siswa dituntut untuk terampil berbahasa, yaitu terampil menyimak, membaca, berbicara, dan menulis. Keempat keterampilan berbahasa tersebut harus dilakukan secara terpadu dalam satu proses pembelajaran dengan fokus satu keterampilan. Misalnya, para siswa sedang belajar keterampilan berbicara maka ketiga keterampilan yang lainnya harus dilatihkan juga, tetapi kegiatan tersebut tetap difokuskan untuk mencapai peningkatan kualitas berbicara.
Secara singkat dapat dismpulkan bahwa pada hakikatnya pembelajaran terpadu adalah upaya memadukan berbagai materi belajar yang berkaitan, baik dalam satu displin ilmu maupun antar disiplin ilmu dengan kehidupan dan kebutuhan nyata para siswa, sehingga proses belajar anak menjadi sesuatu yang bermakna dan menyenangkan anak.
Hubungan antara empat keterampilan berbahasa
Empat keteramilan bahasa yaitu menyimak, berbicara, membaca, dan menulis memiliki hubungan dan masing – masing mempunyai ciri tertentu. Dalam proses komunikasi, semua aspek berbahasa, baik lisan dan tertulis sangat penting. Pengalaman adalah dasar dari makna yang disampaikan dan dipahami dalam bahasa tertentu. Anak yang memiliki pengalaman berbahasa yang cukup luas bisa mengungkapkan maksudnya dan memahami maksud orang lain dengan mudah. Kemampuan menyimak , berbicara, membaca dan menulis semua bergantung pada kekayaan kosakata yang dimiliki.
1. Hubungan antara Menyimak dan Berbicara
Menyimak dan berbicara adalah keterampilan yang saling melengkapi. Menyimak dan berbicara, merupakan keterampilan berbahasa lisan. Keduanya membutuhkan media berupa symbol – symbol dan kemudian menyebutkan apa simbol tersebut . Pada dasarnya bahasa yang digunakan dalam percakapan dipelajari lewat menyimak dan menirukan pembicaraan.
2. Hubungan antara Menyimak dan membaca
Menyimak dan membaca merupakan keterampilan yang bisa diserap. Keduanya memungkinkan seseorang menerima informasi dari sumber – sumber. Menyimak dan membaca dibutuhkan symbol – symbol juga. Menyimak bersifat lisan sedangkan membaca bersifat tertulis detail, urutan, hubungan sebab akibat, mengevaluasi secara kritis dan menangkap pesan – pesan secara lisan, itu dapat mempengaruhi kemampuan anak – anak untuk menyerap informasi. Penambahan sebuah kata dalam kosakata yang disimak anak – anak meningkatkan kemungkinan mereka dapat menyebutkan arti kata tersebut jika mereka mebacanya.
3. Hubungan antara Berbicara dan Menulis
Berbicara dan menulis merupakan ekspresif atau produktif. Keduanya digunakan untuk menyampaikan informasi. Kegiatan berbicara maupun menulis, pengelolaan pikiran sangat penting. Pengelolaan pikiran ini lebih mudah dalam menulis, karena informasi dapat disusun kembali secara mudah setelah ditulis sebelum disampaikan kepada orang lain untuk dibaca. Kegiatan berbicara dapat juga merupakan kegiatan untuk mencapai kesiapan menulis. Bahasa lisan dipelajari dulu oleh anak – anak dan pada umumnya mereka tidak mengutarakan secara tetulis hal – hal yang tidak mereka kuasai secara lisan.
4. Hubungan antara membaca dan Menulis
Membaca dan menulis adalah keterampilan yang saling melengkapi. Tidak ada yang perlu ditulis kalau tidak ada yang membacanya, dan tidak ada yang dapat dibaca kalau belum ada yang ditulis. Dalam menulis orang lebih suka menggunakan kata – kata yang dikenal dan yang dirasakan sudah dipahami dengan baik dalam bahan bacaan yang telah dibacanya. Namun, banyak materi yang telah dibaca dan dikuasai oleh seseorang yang tidak pernah muncul dalam tulisan.
Pembelajaran terpadu memiliki kelebihan (Depdikbud, 1996) sebagai berikut :
1. Pengalaman dan kegiatan belajar anak relevan dengan tingkat perkembangannya.
2. Kegiatan yang dipilih sesuai dengan minat dan kebutuhan anak.
3. Kegiatan belajar bermakna bagi anak, sehingga hasilnya dapat bertahan lama.
4. Keterampilan berpikir anak berkembang dalam proses pembelajaran terpadu.
5. Kegiatan belajar mengajar bersifat pragmatis sesuai dengan lingkungan anak.
6. Keterampilan sosial anak berkembang dalam proses pembelajaran terpadu
Selain itu, Pembelajaran terpadu memiliki beberapa macam karakteristik, diantaranya:
1. Berpusat pada anak (student centered) dan memberi pengalaman langsung pada anak.
2. Pemisahan antara bidang studi tidak begitu jelas.
3. Menyajikan konsep dari berbagai bidang studi dalam suatu proses pembelajaran.
4. Hasil pembelajaran dapat berkembang sesuai dengan minat dan kebutuhan anak.
5. Holistik, artinya suatu peristiwa yang menjadi pusat perhatian dalam pembelajaran terpadu di amati dan di kaji dari beberapa mata pelajaran sekaligus, tidak dari sudut pandang yang terkotak-kotak.
6. Bermakna, artinya pengkajian suatu penomena dari berbagai macam aspek memungkinkan terbentuknya semacam jalinan skemata yang dimiliki siswa.
7. Otentik, artinya informasi dan pengetahuan yang diperoleh sipatnya menjadi otentik.
8. Aktif, artinya siswa perlu terlibat langsung dalam proses pembelajaran mulai dari perencanaan, pelaksanaan hingga proses evaluasi.
Berikut ini dikemukakan pula prinsip-prinsip dalam pembelajaran terpadu yaitu meliputi :
1. Prinsip penggalian tema
2. Prinsip pelaksanaan pembelajaran terpadu
3. Prinsip evaluasi
4. Prinsip reaksi.
(PGMI/IV/II/UTS/IAIN Salatiga)